Showing posts with label mendaki atap jatinangor gunung manglayang. Show all posts
Showing posts with label mendaki atap jatinangor gunung manglayang. Show all posts

Thursday, March 1, 2018

8 Bidadari Trip To Manglayang

 Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Hy, gaes, teman, sahabat, manusia, di manapun kalian menikmati bacaan ini. Selamat menyimpulkan sendiri, apakah kami bidadari atau bukan, ya?
***

Seminggu sebelum Trip di selenggarakan, temanku yang menjadi leader di team ini memberi tawaran, mau ikut atau tidak. Dan ketika aku menuliskan ceritanya di sini, kisah kami sudah terukir sebulan lebih yang lalu.
***

Kamis, 25 januari 2018. Kami bersembilan. 8 perempuan, dan 1 lelaki. Yang bertujuh yakni, Hasibah 'leader', Cica, Amara, Ilmi, Fatin, Shofi dan Zarfani, mereka adalah teman satu kelas di kampusnya. Sedangkan, aku dan Rangga, adalah warga asing yang ikut meramaikan. Namun sama-sama teman Hasibah.

Karena tujuan kami adalah Gunung Manglayang yang bertepatan di Jatinangor, meeting point pertama diadakan di halte dambri dekat terminal angkot kebon kalapa, yang sejalur lurus mendekati Alun-Alun Bandung, dengan tujuan ke Cibiru.

Kami bertujuh dengan segala persiapan yang telah matang, berkumpul dan menunggu dambri jurusan Cibiru, dengan tujuan akan turun di depan UIN Sunan Gunung Djati. Ongkosnya cuma Rp.6000/orang. Berangkat sekitar jam 8-an dan sampai sekitar jam 9-an.

Sesampainya di depan UIN, Hasibah mengintruksikan kami untuk mepo lagi di masjid pinggir UIN. Oke. Sambil menunggu dia datang diantar teman kami pula yang bernama 'teh Jeje', beliau hanya sekedar mengantar dan membersamai kami selama di BaseCamp Batu Kuda, habis itu, pulang kembali.

Sekitar jam setengah sepuluh, Hasibah sampai, disambut Rangga dari Garut, yang ternyata sudah menunggu 2 jam di halte depan UIN. Tak lama setelah membeli beberapa botol air untuk persediaan selama pendakian, Hasibah mencarikan angkot untuk kami pergi ke BC. Dengan tarif Rp.100.000/sekali jalan, kami memutuskan menggunakan jasanya. Lalu kami berdelapan menikmati setiap perjalanan menuju BC dengan obrolan ringan, namun menyenangkan.

Sekitar jam setengah 11-an kami sampai di BC. Langsung mengabadikan moment berphoto di papan besar nan elegant bertuliskan 'Batu Kuda', sambil menunggu Hasibah datang diantar teh Jeje menggunakan motornya. Dia datang, mengurus administrasi, dengan simaksi Rp.10.000/orang (karena kami nge-camp), kalau tektok (pulang pergi) cuma Rp.7.500/orang. Packing ulang, mengabadikan moment dengan kamera ponsel lagi, lalu akhirnya, kita memutuskan memulai pendakian tepat jam 11 siang. Tidak lupa, dimulai dengan berdoa bersama.

Beberapa langkah menyusuri camp batu kuda, kami langsung belok kiri mengambil jalan anak tangga yang akan mengantarkan pada rute awal menuju puncak manglayang. Jalanan sedikit menanjak, setelah sampai di atas, lurus ke arah tulisan di pohon besar, yang berada di sisi kanan jalur, dengan tulisan "Puncak 2,5 KM".

Kau tahu? Aku pemula dalam trip yang benar-benar sampai puncak. Dan, pertama kali menggendong carrier seberat 40L. Biasanya hanya main di kaki gunung, dan wisata alam biasa, tanpa membawa carrier seberat ini.

Jalanan menanjak semua, sedikit sekali menjumpai jalanan landai. 5 menit perjalanan awal, kami, jalan satu menit, ngos-ngosan, diam 5 menit. Begitu saja terus sampai beberapa kali. Jangan dibully, namanya juga pemula, langsung shock liat tanjakan. Harus aku umumkan, selama 30 menit pendakian pertama, di dalam hatiku hanya 'ingin nangis', dan 'ingin pulang saat itu juga'. Tapi, perasaan itu dipendam. Karena setelah 30 menit pertama berlalu, perasaan itu hilang dengan sendirinya. Pendakian mulai normal. Dan carrier pun seperti bukan lagi beban yang perlu dirisaukan.

Aku dan Zarfani awal-awal berada paling depan. Yang lain menyusul. Pokoknya yang aku ingat, jalur yang kami pilih, kanan semua. Biar rapih, dan pas pulang tinggal ke kiri semua.

Adzan dzuhur berkumandang, di antara kami yang sholat (karena aku dan Hasibah sedang berhalangan) mulai membicarakan akan sholat di mana. Tanjakan dan terus tanjakan. Sisi Kiri kanan jurang. Jalanan licin bekas hujan tadi pagi. Membuat kita molor dari standart sampai puncak, biasanya hanya sampai 3 jam, ini molor 1 jam setengah. Dengan patokan setengah perjalanan adalah 2 batu sangat besar saling bersebrangan di sisi kanan atas. Tapi itu bukan jalur, hanya patokan saja.

Selama di jalur, kita isi dengan obrolan ringan namun bermanfaat. Tidak lupa, saling mengingatkan untuk berdzikir. Dan dzikir ketika menemui tanjakan (Allahu Akbar), sedangkan ketika menemui turunan (Subhaanallah).

 Selama 3 jam awal pula, di antara kami ada kisah terpeleset, hampir jatuh, terserang kram, dan beberapa musibah kecil lainnya. Sampai akan tiba di pos yang akan kita pakai sholat di sana, karena landai, aku memakai jalur kanan. Posisi akar besar di atas, di sisi kanan jurang, sisi kiri akar semua, dan jalanan licin sekali dalam keadaan 90°. Karena kesalahan aku memakai jalur itu, alhasil? Salah pijakan, dan terpeleset. Kau tahu ritme getaran jantungku? Tidak karuan. Bayangkan saja, kondisi yang ku alami dengan tempat yang seperti itu. Untungnya, alhamdulillaah, dengan sigap aku menggapai akar besar di depan mataku. Dan berhasil berusaha naik. Jika Allah berkehendak lain, mungkin saja aku bisa terjatuh ke bawah dan mengguling. Cica yang berbarengan denganku, melihat jalurku yang tak bersahabat, maka dia memilih jalur kiri, walau sedikit rumit karena banyak akar dan ranting yang menghalangi.

Yang sudah sampai di pos duluan adalah Zarfani dan Amara. Disambut aku, Cica, Fatin. Lalu yang lainnya. Dengan sedikit kecelakaan yang sama denganku, di jalur kanan menuju pos, Rangga dan Hasibah.

Sekitar pukul 2 siang kala itu. Rangga memasang Hammock, Hasibah memasak Mie dan air buat ngopi. Sebagian ngemil. Hunting photo dengan bendera 'JEKPACKER ADVENTURE JABAR', karena Rangga adalah admin JA JABAR, dan sholat dzuhur. Kurang lebih setengah jam kami istirahat. Langsung packing ulang, dan melanjutkan perjalanan kembali. Dan sedikit hal kecil yang mewarnai ketika perjalanan akan dilanjutkan, alas sepatu Shofi, terlepas dua-duanya. Alhasil, dia meminjam sepatu tracking Hasibah, dan Hasibah menggunakan sandal trackingnya. Namanya juga leader, dia berusaha membuat teman-temannya aman.

Waktu sudah kami habiskan selama 3 jam setengah. 1 jam menuju puncak. Team pertama yakni Zarfani, Amara, Ilmi, dan Fatin sudah sampai duluan di puncak. Aku dan yang lainnya masih jauh di belakang. Karena team kedua, yakni kami yang tersisa ritmenya sangat lambat. Maka, aku memutuskan bergegas sendirian untuk mencapai puncak, karena sudah tidak sabar menginjak tanah di puncak. Dalam kondisi sunyinya perhutanan, kabut yang menggelapkan pandangan, membuat kesendirian ini menjadi menakutkan. Bukan karena jomblo. Itu karena menyusuri jalur sendirian saja.

Tanjakan terakhir, yang benar-benar memang terakhir untuk menuju puncak. Setelah 4 tanjakan yang Hasibah kabarkan hanya 2, untuk menyenangkan kami, dan nyatanya tidak sama sekali. Mulai terdengar suara team pertama yang sudah sampai duluan. Semakin bersemangat untuk mempercepat langkah kakiku, agar secepat mungkin dapat sampai di sana.

Kamu tahu? Tanjakan demi tanjakan membuatku lelah. Lutut ketemu dagu. Tangan mengerat pada akar. Kaki berpijak dengan kuat. Melemas semua otot-ototku karena perjalanan 4 jam setengah ini. Namun semua terbayar lunas, ketika akhirnya aku mampu sampai di puncak. Ya! Yasmin pernah berada di Puncak Manglayang, yeaay! Terpaku di pijakan pertama kedua kakiku, untuk beberapa detik mensyukuri keselamatan ini. Walaupun disambut dengan kabut yang begitu pekat, pepohonan yang begitu rindangnya, tetapi tak membuatku kecewa. Karena walau tidak menemukan samudera awan, setidaknya samudera kabutpun indah. Kabut rindu kusebutnya kini.

Tepat jam setengah 4 aku sampai di puncak. Fatin menyambut ku dengan pelukan. Bergegas ku mengabadikan moment diri bersama plang 'Puncak Manglayang 1818 MDPL' yang tersandar di pohon besar yang tegak berdiri di posisinya. Cica dan Shofi tiba. Di susul dengan Hasibah dan Rangga. Ah, terbayar sudah semua lelahku. Alhamdulillaah. Seperti tak pernah merasakan lelahnya 4 jam setengah yang ku lalui tadi, dengan sedikit banyaknya susah payah.

Rangga, Hasibah dan Shofi mulai mendirikan tenda. 2 tenda yang dipasang saling berhadapan. Aku, Cica dan Ilmi, masih berphoto ria di sekitaran area puncak. Amara, Fatin dan Zarfani, duduk bersama di batang pohon besar yang tergeletak di samping pohon plang puncak manglayang.

Setelah itu, Rangga memasang Hammock di pohon besar plang puncak, dengan pohon yang berada di sebrangnya. Sisanya ada yang sholat ashar, membereskan barangnya di tenda. Dan mulai akan memasak, untuk makan malam. Posisi memasak yang awalnya di depan batang pohon besar yang tergeletak. Dipindahkan ke tengah tenda (titik tengah antara 2 tenda yang dipasang). Makan, sholat maghrib, sholat ashar dan santai sejenak.

Kini, pukul 8 malam. Agenda selanjutnya adalah sharing tentang materi seputar mendaki gunung, dan yang paling mencuri perhatianku adalah sharing materi tentang hypotermia. Singkatnya, hypotermia adalah penyakit pendaki gunung yang disebabkan karena kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas yang disertai dengan menurunnya suhu inti tubuh di bawah 35°C. Yang terjadi karena kedinginan, berangin atau badai. Dan jika kondisi sudahlah teramat parah disertai penanganan yang tak sigap juga Allah telah mentakdirkan, maka, meninggallah akibatnya.

Aku tak akan terlalu jauh membahas apa itu hypo, karena permasalahannya terlalu rumit, dan aku belum begitu memahami. Yang aku tau sebatas gejelanya yaitu, badan terasa dingin nan hebat, menggigil, lemas, pucat, dan lainnya.

Dengan sedikit pembahasan bahwa Gunung Manglayang adalah 'caberawitnya Gunung Cikuray', pula Gunung Guntur, adalah 'caberawitnya Gunung Semeru', kata Rangga, karena dia porter di Guntur, dan yang dia rasakan seperti itu. Disebabkan pembahasan tentang 'Guntur' sejak saat itu, sampai saat ini aku masih penasaran tentang dia. Doakan, semoga aku bisa silaturahmi ke sana di tahun ini, aamiin.

Bincang-bincang santai selesai pada pukul setengah 9-an, malam. Bergegaslah kami kedalam tenda masing-masing untuk persiapan tidur. Dengan pembagian 6:3. 6 orang di tenda hijau termasuk aku, 3 orang di tenda merah yakni, Hasibah, Rangga dan Shofi (dengan dibatasi oleh carrier tentunya, karena semua barang-barang disimpan di sana)

Masing-masing sudah mengambil formasi sendiri. Jam 9 malam, mulailah senyap karena tertidur lelap. Posisinya menyamping dari pintu tenda. Fatin di samping kanan, samping pintu tenda. Ilmi di samping kiri, samping pintu tenda. Cica samping kanan, setelah kaki Ilmi di pertengahan antara dia dan Fatin. Amara, dan zarfani dengan posisi mengiramakan seperti yang tadi. Kau bertanya posisiku di mana? Posisiku di atas tubuh Fatin, Ilmi dan Cica, ha ha. Kenapa? Karena kaki kiriku keseleo tadi pagi di depan kostan Hasibah sebelum berangkat ke halte. Dan terasa sakit, ketika malam tiba. Mungkin karena dingin, mungkin.

Dengan SleepingBag nya masing-masing, dan hanya aku dan Zarfani yang tidak memakainya. Maka, aku pakai selimut punya Hasibah, entahlah dia pakai apa, yang jelas aku kedinginan dan gelisah karena hujan tak kunjung reda sejak maghrib tadi. Padahal, sudah memakai kaos kaki 3 lapis, sarung tangan, syal, dan jaket, huuuuh!

Seusai kaki di pijat oleh Rangga, pastinya dengan keadaan tidak bersentuhan antara 2 kulit. Aku terlelap di atas badan Cica, Ilmi dan Fatin, dengan izin terlebih dulu tentunya. Mereka mengizinkan, karena simbiosis mutualisme sebenarnya, sama-sama merasakan manfaat kehangatan, he he. Dan tanpa sadar, aku tidur dalam keadaan kedua kakiku berada di luar (sampai pergelangan kaki saja).

Pukul 10 aku terbangun karena kaki yang disuruh dimasukan ke dalam tenda oleh manusia yang berada di tenda sebrang, katanya, nanti menjelang dini hari, akan semakin terasa dingin. Padahal, aku sudah pw dengan posisiku, ah, menyebalkan.

Mau tidak mau, berpindahlah aku menjadi berada di samping cica, dengan posisi yang sama. Hanya saja, aku sedikit di bawahnya. Muka ku, menghadap kakinya, dan tidur di atasnya. Kau tau? Sejak saat itu, dingin mengganggu suhu tubuhku. Di tenda sebrang sedang khusyu membaca Al-Qur'an, dengan surah yang dibaca adalah surah 'Al-Kahfi'. Karena pada saat itu adalah malam jum'at, dan disunnahkan membaca surah Al-kahfi. Namun, aku di sini hanya mendengarkan saja, dan mulai berusaha tertidur kembali. Karena tidak kuat kedinginan.

Singkat cerita, jam 11 malam aku diserang kegelisahan kembali. Seperti ingin turun saat itu juga, karena hujan yang semakin membesar dan dingin semakin menyerang. Tanpa berfikir panjang, agar gelisah ini mereda. Akhirnya ku putuskan untuk menghidupkan malam di gunung dengan Sunnah, membaca surah Al-kahfi sendirian. Dan memang benar, Al-Qur'an adalah obat yang paling ampuh dalam hal mengobati kegelisahan. Secara berangsur-angsur, rasa gelisah itu mulai menghilang. Menjauh dari hati yang menginginkan ketenangan. Alhamdulillaah.

Perlu ku sampaikan, kisah pendakian kami sungguh luar biasa. Pemula, namun banyak menerima pembelajaran. Dari treck awal yang licin, karena hujan di pagi hari. Treck yang menantang bagi pemula. Kabut pekat yang menemani kami dari awal tiba di puncak, hingga turun kembali. Hujan mengguyur tenda semalaman tanpa istirahat. Mahabaik Allah, dengan setiap pengalaman hidup yang ia beri bagi kami, di hari ini. Alhamdulillah.

Subuh. Terasa sekali begitu nyenyaknya aku tidur semalam, akhirnya. Terbangun karena ada banyak suara yang menciptakan keramaian di luar tenda. Ku kira itu penghuni tenda sebrang. Ternyata bukan, suara itu berasal beberapa meter dari belakang tenda sebrang. Dari suara satu team yang melakukan treck malam, yang sedang menghangatkan diri. Ku kira ada sekitar 5 atau 6, 7 orang, kalau tidak salah. Salut! Kenapa? Karena mereka berani mendaki saat malam dan itu hujan. Semalaman suntuk Manglayang kala itu diguyur hujan. Mereka hebat bukan? Hanya saja, mereka langsung turun kembali pada pukul 7 pagi.

Dengan segala kegiatan masing-masing. Ada yang masih tidur, terduduk kedinginan, olahraga pagi, dan pipis, kami melalui pagi dengan aktifitas tersebut.

Jam 8 pagi. Oh iya, kemarin kami janjian dengan supir angkot yang mengantarkan kami dari Masjid samping UIN hingga BC batu kuda pada pukul 12 siang, tepatnya sesudah jum'atan. Namun kau tahu? Kami mengecewakannya, dengan baru tiba di BC setengah 5 sore. Karena santai yang terlalu di puja, ah, maafkan kami pak.

Jam 8 pagi kami baru mulai memasak, jam 10 beres dari sarapan. Agak aku percepat ceritanya. Packing dimulai, dari peralatan pribadi sampai tenda, beres jam 12 siang. Sedikit bercengkrama dengan pendaki yang baru datang, 3 orang lelaki, entah dari mana asalnya, karena ketika salah satu dari kami bertanya, mereka menjawab 'dari tadi', 'dari bawah', dan beberapa guyonan khas ala sesama pecinta alam. Berphoto ria kembali. Dan barulah kami memulai turun pada pukul setengah 1 siang.

Turunan yang cukup terjal. Membuat kami shock kembali. Aku, serasa tidak mau pulang karena melihat treck yang begitu mengenaskan, bagiku (jika menurutmu terlalu berlebihan, coba saja silaturahmi dulu ke sana, he he). Hanya saja, mau tidak mau harus tetap melangkah menuju pulang, mana mungkin aku berani menghuni gunung sendirian. Rangga dengan tehnik webbing-nya mengajarkan kami cara bagaimana untuk turun. Satu persatu dan mulailah perjalanan dirasa normal.

Perjalanan turun memakan waktu 3 jam setengah, lebih cepat satu jam dari perjalanan naik. Dengan posisi awal aku yang selalu terakhir. Tak lain, karena memegang prinsip 'Utamakan keselamatan dari pada kecepatan', yang penting sampai pada tujuan, hehe.

Waktu dilalui mengalir begitu saja. Saling bincang santai penuh manfaat, dan hal-hal kecil lainnya yang mengundang tawa. Namun, tak lupa berdzikir juga!
Entah berapa kali kami beristirahat, yang jelas, team pertama yang sampai duluan di BC adalah Shofi, Amara, Zarfani, Ilmi. Mereka, awal sekali sampainya, hingga sewaktu kami tiba, mereka sudah beres mandi.

Aku, Cica dan Fatin team ke dua yang sampai. Disambut oleh teh Jeje yang datang dengan pesan bahwa supir angkot telah menunggu dari jam 11 siang. Kau tahu kapan teh Jeje berjumpa dan menyampaikan kabar itu pada kami? Jam 4 sore. Bayangkan saja. Dengan ketergesaan kami nan malu kepada supir angkot, hingga tak sempat mandi dulu seperti team pertama. Kami menunggu Hasibah dan Rangga yang tiba setengah jam kemudian setelah kami sampai.

Tanpa berlama-lama lagi, proses negosiasi dan permintaan maaf kami utarakan pada supir angkot yang telah lama menunggu dan pastinya kesal. Sesudahnya, kami menuju kembali ke masjid samping kampus UIN, untuk menunggu dambri ke Alun-alun Bandung.

Kami tiba di sana maghrib. Sedikit berbincang, perpisahan pula dengan Rangga karena berbeda tujuan. Namun akhirnya kami pulang dengan angkutan kota (angkot), karena tidak mendapati dambri.


2 kali naik angkot, turun di terminal kebon kalapa. Dan akhirnya, Alhamdulillaah kami sampai ke kosatan masing-masing jam 9 malam. Walau sebenarnya aku dan Cica, pulangnya ke kostan Hasibah. Lalu pulang ke rumah, ke esokan harinya. Selamat sampai tujuan, dengan jiwa dan hati yang berbahagia, walau sedikit merasakan sakit badan hingga 4 hari ke depan, he he.


Tapi tak mengapa, kisah 25-26 Januari 2018 adalah sejarah di mana nanti, aku dapat menceritakan hal ini pada anak cucu ku, bahwa pendakian pertama ku ke Gunung Manglayang, bersama satu set gamis biru dongker dan kerudung bergo model bolong lengan  berukuran 150×130 cm warna hitam, niqab tali warna hitam. carrier rei brantas 35+5 L yang sudah ku beli senjak september tahun 2016, sepatu SNTA waterproof warna ijo tua, dan bersama 7 bidadari Ma'had Imaraat dan 1 bodyguard dari garut. Dengan izin mamih papih, dan pinjeman uang agar mampu ikut mendaki dari kakak, juga pengalaman yang teramat sangat mengesankan. Ah, aku rindu. Ingin lagi.

Jadi, kapan muncak bareng? He he.
***

Terimakasih sudah mau membaca kisahku. Kau tertarik? Tetaplah menjadi pembaca setia laman ku ini. Agar akupun selalu semangat, dalam mencari setiap pengalaman yang akan menjadi bahan penulisanku nantinya. Salam satu alam, dan satu hashtag #niqabadventure.

"Mungkin, bidadari dunia tidaklah bersayap. Namun ku pastikan, dia ber-carrier." (Yasmin Nabilah, 2018)

Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

-***-

Berikut koleksi photo selama pendakian :











8 Bidadari Trip To Manglayang

 Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh. Hy, gaes, teman, sahabat, manusia, di manapun kalian menikmati bacaan ini. Sel...